Kita masih muda

Pernahkah kau melihat kemiskinan..? Mereka yang terpapar di emperan toko. Mereka yang menengadahkan tangan di prapatan jalan. Mereka yang bersalam di tiap pintu, sambil menyodorkan kantung. Mereka yang....

Bila seperti itu, maka kau patut bersyukur. Karena setidaknya bukan dirimu masuk dalam kategori seperti itu. Tapi sekali lagi, bila seperti itu. Jika ditilik baik-baik, ternyata tidak seperti itu. Kemiskinan yang tampak, ternyata bukanlah kemiskinan yang sesungguhnya. Bukan miskin secara morfologi atau anatomi, tetapi secara psikologi. Mereka yang tampak miskin di mata sebagian orang, tidaklah seperti itu. Kemiskinan yang didera oleh mereka, setidaknya karena memang sengaja dimiskinkan/dibuat miskin dan tetap dijaga seperti itu. Kemiskinan yang mereka alami karena ketiadaan akses yang seharusnya mereka dapatkan. Bukankan kemiskinan itu kata lain dari kelemahan khususnya dari segi ekonomi..? Mereka lemah. Mereka memilki jiwa yang tegar untuk menghadapi segala sesuatu yang dengan tanpa sadar mereka alami. Bukan faktor takdir atau nasib, tapi suatu kesengajaan. Ibarat permainan, mereka adalah pemain tangguh yang dihadapkan pada situasi kekalahan, bahkan sejak pertandingan belum dimulai.
Jadi, bukankah kita yang mengalami kemiskinan yang sebenrnya..? Kita lemah. Lemah fisik untuk tetap mengais rezeki, bakan di jalan yang telah lempang sekalipun. Lemah dari segi ilmu untuk mengadakan berbagai inovasi guna menghadapi hidup yang sulit. Lemah dari segi mentalitas untuk mengakui mereka ada dan nyata sebagai bagian hidup kita. Kita sering mengalami gangguan jiwa sesaat, bila kita bertemu-tatap muka dengan mereka. Kita kadang buta, pura-pura tidak melihat. Pandangan kita menjadi lemah dan menganggap keberadaan mereka tidak ada. Halusinasi sesaat. Kita kadang menjadi tuli. Gelombang suara yang mereka pancarkan tak dapat kita dengar, bahkan teriakan sekeras meriam. Kita juga kadang bisu. Mengalami gangguan fungsi otak. Tak dapat berkata-kata, bersuara menyampaikan pendapat. Atau kita tanpa sadar mempraktikannya sekaligus. Buta-tuli-bisu.
Sangat disayangkan bila kita yang tetap dan sering mengakui diri sebagai pemuda mengalami berbagai kelemahan-kelemahan tersebut. Sangat ironis pula bila terjadi masih diseputar hari 28 oktober, Hari Sumpah Pemuda. Atau jangan-jangan ingatan kita telah menjadi mandeg. Lemah untuk mengingat bat-bait sumpah itu.

0 coment:

Posting Komentar


 

K2 Modify 2007 | Use it. But don't abuse it.