Raa-mi-dhaa...

Kata Ramadhan berasal dari akar kata dasar ra-mi-dha yang berarti “panas” atau “panas yang menyengat”. Kata itu berkembang sebagaimana biasa terjadi dalam struktur bahasa Arab– dan bisa diartikan “menjadi panas, atau sangat panas”, atau dimaknai “hampir membakar”.

Jika orang Arab mengatakan Qad Ramidha Yaumuna, maka itu berarti “hari telah menjadi sangat panas”. Ar-Ramadhu juga bisa diartikan “panas yang diakibatkan sinar matahari”.
Demikianlah istilah bulan Ramadhan diambil dari kalimat ramidha-yarmadhu, yang berarti “panas atau keringnya mulut dikarenakan rasa haus”. Keterangan-keterang an tentang lafadz Ramadhan ini disampaikan oleh Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir Al-Razi (w. 721 H) dalam kamus Mukhtaru-sh- Shihhah dan Muhammad bin Mukarram bin Mandzur Al-Mashri (630-711 H), yang terkenal dengan sebutan Ibnu Mandzur, dalam karya monumentalnya, Lisanu-l-‘Arab.
Satu-satunya nama bulan dari 12 bilangan bulan dalam setahun yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an hanyalah Ramadhan (baca Qs. Al-Baqarah : 185) Sedangkan bulan lainnya termasuk bulan haram (baca Qs. at-Taubah : 36) tidak disebutkan dalam artian penamaannya diserahkan kepada manusia. Dari sini muncul pertanyaan, mana yang lebih dahulu ada, perintah puasa atau penamaan bulan Ramadhan ?. Disini ada catatan menarik. Ketika Allah SWT menyebut bulan dimana didalamnya diturunkan Al-Qur’an dan diwajibkannya orang-orang beriman untuk berpuasa dengan kata Ramadhan, masyarakat Arab waktu itu tidak merasa asing dengan istilah ini. Bahkan dalam konteks struktur bahasa Arab, kata ini sudah menjadi Ism ghoiri munsharif yakni kata-kata yang sangat jelas maksudnya meskipun tidak sesuai dengan struktur gramatikal bahasa Arab.
Dengan demikian, masyarakat Arab saat itu telah sangat akrab dengan tradisi Ramadhan, yang didalamnya orang berpuasa. Yakni keadaan seseorang lebih merasa panas diakibatkan tenggorokan yang haus dan kering, sehingga menyebut saat-saat itu sebagai Ramadhan. Lalu dari mana orang-orang Arab saat itu mengenal tradisi Ramadhan ?. Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 yang memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan ibadah puasa yang berbunyi,”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa…”. adalah jawabannya. Yakni kewajiban melaksanakan puasa diperintahkan sebagaimana orang-orang sebelumnya. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar RA (w. 73 H), sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir (701-774 H) dalam tafsirnya, bahwa Nabi SAW bersabda “Puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah SWT atas umat sebelum kamu”.
Dengan demikian, kita bisa memastikan pula bahwa penamaan Ramadhan itu ada, setidaknya, sejak syariat puasa diturunkan kepada umat manusia. Telah kita ketahui bahwa syariat puasa memang sudah menjadi syariat bagi setiap umat manusia. Dan di antara sekian macam syariat, hanya ibadah puasa merupakan ibadah kontemplatif. Puasa merupakan komunikasi paling rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Itulah sebabnya sangat bisa diterima mengapa Shuhuf-nya Ibrahim as, Tauratnya nabi Musa as, Injilnya nabi Isa as serta Al-Qur’annya kaum muslimin turun pertama kali pada bulan Ramadhan, bulan saat para nabi mengalami hubungan paling sakral dengan Allah SWT. Memang bukan ini satu-satunya jawaban, namun saya harap jawaban ini memuaskan sang anak.
Selamat berpuasa.


0 coment:

Posting Komentar


 

K2 Modify 2007 | Use it. But don't abuse it.