Kata “puasa” dalam bahasa Indonesia diambil dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: “upa” dan “wasa.” Upa adalah semacam prefiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa (seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa).
Jadi “upawasa”, atau yang kemudian dilafalkan sebagai puasa dapat diartikan sebagai cara mendekatkan diri kepada Tuhan, Dzat yang Maha Kuasa. Tentu saja defenisi ini terlalu umum dan luas, sebab tidak semua cara atau amalan yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan disebut puasa. Sedangkan puasa dalam bahasa Arab disebut Shiyam atau Shaum –keduanya sama-sama kata dasar dari kata kerja Sha-wa-ma–, yang secara etimologis berarti menahan dan tidak bepergian dari satu tempat ke tempat lain (Al-Syaukani, 1173-1255 H., dalam kitabnya Fathu-l-Qadir) . Shiyam atau Shaum merupakan qiyam bila ‘amal, yang berarti ‘beribadah tanpa bekerja’. Dikatakan ‘tanpa bekerja’ karena amalan ini
sendiri bebas dari gerakan-gerakan, baik gerakan itu berupa: berdiri, berjalan, makan, minum dan sebagainya. Makna amalan yang “menahan” ini juga terlihat jelas tatkala kita menelusuri sejarah bahasa shiyam atau Shaum (M. Luthfi Thomafi, 2002).
Ibnu Mandzur, pakar sejarah bahasa Arab yang sangat diakui kemampuannya dalam melakukan pelacakan atas asal-muasal kata, mendefinisikan Shaum sebagai “hal meninggalkan makan, minum, menikah dan berbicara”. Definisi ini adalah definisi paling asli dan sahih dalam sejarah bahasa Arab. Ini cocok dengan keterangan Al-Qur’an, misalnya, pada kisah Sayyidah Maryam saat menjawab tuduhan orang-orang kepadanya, "Sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" (QS. 19:26). Shaum yang dimaksud Sayyidah Maryam di situ adalah “menahan untuk tidak bicara”. Lalu mengapa shaum diartikan kedalam bahasa Indonesia menjadi puasa ?. Sebab puasa yang dimaksud sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dilakukan dengan cara sebisa mungkin seperti Tuhan. Manusia yang berpuasa layaknya Tuhan yang tidak butuh terhadap makan, minum dan hubungan biologis. Puasa berbicara tentang
sebuah pertahanan diri untuk mengikis naluri kemanusiaan, berupaya tidak hanya mendekati Tuhan tapi ‘menjadi’ Tuhan.
Di sini, sifat ‘menahan’ menjadi titik atau letak perbedaan antara puasa dengan amal ibadah yang lainnya. Apapun amal ibadah seseorang, pasti akan dapat diketahui dari sisi dhahir atau luarnya, seperti shalat, haji dan sebagainya. Tetapi, untuk puasa tidak bisa diketahui dan tidak bisa diperlihatkan dengan gerakan-gerakan dzahir atau fisik. Pantaslah jika Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa satu-satunya ibadah yang tidak bisa dicampuri riya’ –melakukan amalan karena berharap pujian manusia- adalah puasa. Seberapapun ngototnya seseorang untuk disebut sedang berpuasa, sulit menerima sepenuhnya, sebab puasa meskipun juga amal badaniyah namun secara batiniyah hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Label: demi JIWAmu
0 coment:

Posting Komentar