Yang kami imani dan percayai , Dzat Tunggal Pemilik Alam raya....
yang kami tauladani meskipun masih mencoba, Baginda Saw...
yang kami cintai , orang tua yang terus menunggu...
yang kami hormati, kawan-saudara-karib-kerabat-handai-taulan-senior-junior-pacar-odo'2...
dimanapun berada....
Tak terasa empat bulan berjalan sejak medio Januari, memunguti satu-persatu amanah yang diberikan, mengguncang lonceng-lonceng kesadaran, tamparan kisah berhikmah dan anugrah keterkejutan yang tak berkesudahan, membawa diri pribadi dengan selamat ke hari akhir di bulan April.
Meski tak lazim dan (mungkin ) agak tergesa-gesa,LPJ ini disampaikan untuk menghangati lagi tungku-tungku aqad di berbagai ranah yang dilewati. Sekaligus ajang apresasi perasaan yang terlontar secara sengaja dan senangja', hampir tiap hari. Luapan emosi tak berkira diutarakan, sekadar menguji pula, apakah utang-utang tak berbayar diluluskan.
Kadang, diri mencoba realistis dengan kondisi keduniawian yang ada. Dengan tak menyepelekan masaalah ukhrawi, yang dengan sengaja tak tertulis di sini. Hampir tiap hari, keyakinan diri begitu terasa. Mendesak di tiap bilangan menit, merapatkan diri di hitungan detiknya. Lantunan tanya yang muncul di hadapan mata, baik yang terlintas saja dengan percuma, ataukah menampakkan wujud dengan sengaja, bukannya tak dihiraukan. Bukannya tak dijawab. Hanya saja, kebanyakan jawabannya adalah tidak. Tak lepas dari itu pula, keadaan lingkungan yang semakin bertemperasan pada diri turut ambil bagian dari upaya (bila ada) pembangkangan sifat. Tanpa maksud berlepas diri, disadari bahwa, itupun merupakan bagian dari rencana yang tak berkesudahan, akibat banyaknya titik fokus yang muncul dengan tiba--tiba disana-sini.
Sepanjang perjalan dalam cawu I ini, tentu tak bisa dikatakan mudah, apalagi gampang. Sebelum memulainya pun, ada keyakinan bahwa jalan ini tak mulus dan lurus. Banyak persimpangan yang harus dilalui, penuh onak dan duri di tiap tempat, ruang, dan waktu. Tak terhitung banyaknya batu dan kerikil bersileweran yang berpacu dengan cucuran keringat yang seketika saja ikut bersemangat. Umpatan dan cacian akibat perbuatan sendiri diterima dengan lapang dada. Lain hal dengan sindiran dan cemoohan halus, dianggap sebagai warta pagi yang terus dan harus selalu diikuti karena ritme kebutuhan yang terus menggila. Sikap sok kuasa, penuh arogan, dan kepercayaan diri yang tidak pada tempatnya, turut mengambil peran dalam penentuan tingkah laku dan cara bertutur yang semakin tak tahu malu. Meskipun terdapat beberapa langkah-langkah jenius yang tidak terencana, berjalan dengan baik dan dianggap luar biasa, maaf saja, tak disebutkan dengan sengaja.
Akhir kata, kebocoran-kelalaian-kesengajaan di sana-sini semoga dapat diminamilisir sesuai dengan tuntutan dan tingkatan pengetahuan yang terus diperkaya. Masih panjang perjalanan untuk sampai di rambu berikut, segala tindak tanduk harus terukur dan terhitung sebelumnya, agar tidak ada lagi usaha-usaha untuk menjerumuskan diri dengan penuh bangga hati.....
Label: demi JIWAmu
2 coment:

masih adaji itu kah???????/ saya kira negeri ini tak bertuhan sampai-sampai pemimpin saja basa tak adil...... lagi pula siapa yang jadi pemimpin,, saya hanya pengurus yang terkebiri oleh zaman...
BEM, apa itu?, sejenis makanan ato apa sich....