Bulan Latihan

Seperti halnya seorang atlit pelatnas bila akan mengikuti suatu kompetisi akbar semisal olimpiade (dimana waktu pertandingan memakan waktu kurang lebih satu bulan), yang menggunakan waktunya berbulan-bulan untuk latihan, maka seperti itu kiranya kita dapat bersikap di Bulan Ramadhan atau bulan Puasa ini. Bedanya, kita berlatih selama sebulan penuh untuk masa pertandingan yang berbulan-bulan.


Telah banyak para asaatidz (Uztadz, jamak) menyampaikan mengenai keutamaan-keutamaan di bulan Puasa sejak malam pertama hingga sekarang. Yang mungkin paling kita telah ketahui bahwa di bulan Puasa kita diwajibkan untuk menahan diri dari segala yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tanpa maksud menyepelekan amalan-amalan lain (tadarrus, tarawaih, sedekah, i’tikaf dll), bulan Puasa memang diidentikkan sebagai bulan latihan. Latihan untuk menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang sia-sia. Bila dasar perbuatan hanyalah hitung-hitungan pahala (yang memang akan dilipatgandakan oleh Allah SWT) tanpa ada niatan keikhlasan dan untuk melatih diri, maka semakin sempurnalah kesia-siaan itu.

Memang terasa berat untuk menjalani semua bentuk latihan ini. Tiba-tiba saja kita diperintahkan untuk meninggalkan keseluruhan aktifitas yang (mungkin) telah menjadi kebiasaan kita masing-masing yang kita lakukan dengan senang hati dan suka rela bila di luar bulan Puasa. Akan terasa lebih berat lagi bila kita tidak memiliki persiapan memulainya bahkan sebelum masuk bulan Puasa. Bukankah sangat dianjurkan untuk melakukan segala bentuk pemanasan bahkan untuk memulai latihan sekalipun..?

Bulan Puasa tidak sekedar menahan makan, minum, atau berhubungan suami-istri di siang hari bulan Puasa saja, tapi lebih dari itu. Menahan diri (termasuk seluruh anggota tubuh) kita dari hal-hal yang sifatnya atau yang berpotensi menyengsarakan/ menyusahkan orang lain. Kita yang tidak terbiasa untuk menahan diri dari menghina (mencela) orang lain misalnya, sadar tidak sadar kita akan melanjutkan kebiasaan itu meski di bulan Puasa. Tidak disadari bahwa kita masih mencela orang lain, mengambil hak milik orang lain tanpa izin, menceritakan aib dan kekurangan orang lain, berkata dusta, melihat dengan syahwat dll yang nota bene tidak dianjurkan selama bulan Puasa dan berpotensi merusak amalan Puasa kita.

Bulan Puasa bukan hanya sebagai pelatihan diri untuk orang yang berpuasa saja, melainkan juga untuk mereka yang tidak berpuasa. Bagi mereka yang tidak berpuasa dituntut tidak hanya menahan diri dari makan, minum (bahkan merokok) di sekitar orang yang sedang berpuasa. Lebih dari itu, dituntut pula untuk tidak memulakan diri melakukan berbagai aktifitas yang akan merusak amalan ibadah Puasa (bagi yang berpuasa). Dituntut untuk tidak memulai menjelek-jelekkan orang lain atau menceritakan aib dan kekurangan orang lain dll yang darinya dapat mengundang reaksi/tanggapan dari orang yang sedang berpuasa. Bahasa lainnya latihan peningkatan toleransi. Sangat ironis memang kita menegur (karena) sangat tersinggung dan marah bila mendapati kawan kita (yang tidak berpuasa) makan, minum atau (sekedar) merokok di sekitar kita tapi kita tampak asik saja turut rembug dari hal-hal yang dapat memakruhkan atau bahkan membatalkan puasa kita.

Banyak dari diri kita salah persepsi tentang keberadaan bulan Puasa. Tampak padu bila kita dengan salah mengartikan ”Semoga selalu sehat melakukan ibadah Puasa hingga hari kemenangan tiba“. Hal ini membentuk anggapan bahwa bila selesai Puasa, maka kita akan mendapatkan kemenangan. Hasilnya, waktu bulan Puasa, taat ; habis bulan Puasa, kualat. Padahal selama bulan Puasa kita melakukan berbagai latihan yang fungsinya agar diri kita terbiasa menahan diri masing-masing untuk menjalani hari-hari yang keras di luar bulan Puasa. Lha, bagaimana mau merayakan kemenangan, bila pertandingannya baru akan di mulai.....?

0 coment:

Posting Komentar


 

K2 Modify 2007 | Use it. But don't abuse it.