Yoi...hati-hati...

Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, akan sangat nampak kemajuan yang terjadi pada diri kita, kelakar seorang teman. Kita seakan tidak merasa akan ditinggalkan seorang kawan yang datang bertamu dengan sejuta manfaat. Yang akan sangat rugi bila ia pergi dan kita tidak menjumpainya lagi. Yang akan melinangkan air mata untuk kepergiannya.

Seterusnya kiblat kita menuju pasar-pasar, mall-mall, tempat pameran.Shaf-shaf akan maju dari sepuluh shaf jadi satu atau setengah shaf saja. Akan ada rutinitas kita yang berada di depan perapian entahkah itu kompor, tungku, api, serta mesin-mesin bakar untuk merayakan hari Lebaran.Akan ada petasan bunyi disana-sini, bunyi meriam bambu membahan di kanan-kiri sungai, terompet beradu merdu dengan suara speaker dari mobil pawai takbiran dll. Seakan menjadi klimaks; seakan untuk melengkapi hitamnya jelaga pada wajah akibat sikap dan perilaku kita yag sekan tidak berubah, mulai awal hingga akhir Ramadhan.

Allah SWT berfirman :


syahru ramadaana alladzii unzila fiihi alqur-aanu hudan lilnnaasi wabayyinaatin mina alhudaa waalfurqaani faman syahida minkumu alsysyahra falyashumhu waman kaana mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara yuriidu allaahu bikumu alyusra walaa yuriidu bikumu al'usra walitukmiluu al'iddata walitukabbiruu allaaha 'alaa maa hadaakum wala'allakum tasykuruuna

[Q.S Al Baqrah :185] (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Bila bulan puasa telah beranjak kita sewajarnya akan sedih dengan singkatnya perjumpaan dengan bulan yang penuh Rahmah, Magfirah, Barokah ini. 'Semoga bisa kembali bertemu dengannya di tahun depan', biasa kita berdoa di hari akhir bulan Ramadhan. Maka tatkala suara meng-amin-kan doa sang Imam, terbersit niat untuk mengulangi dosa yang sama, setidaknya sebagai pengurang beban dosa bila buat salah. Akibatnya kita membuat perilaku tak ada beda dengan tahun-tahun kemarin. Kita dengan beraninya menggadai hidup buat kealpaan berkali-kali dan berharap untuk bertemu Ramadhan tahun depan. Jadi, sudahkah berpeluk-cium mengucapkan kata-kata perpiasahan yang layak dengan bulan Ramadhan ataukah sekedar saja..? Mengangkat tangan dengan acuh dan berteriak parau, 'Rama, yoi...hati-hati...!?'


0 coment:

Posting Komentar


 

K2 Modify 2007 | Use it. But don't abuse it.